
BANDA ACEH – Cuaca pagi kemarin cukup cerah dengan sedikit awan menggantung di atas Kota Banda Aceh. Di salah satu sudut kota, tampak keramaian manusia. Mereka terus berdatangan hingga menjelang siang. Satu per satu mereka turun dari kendaraan dan memasuki lahan rerumputan hijau yang tertata rapi. Tua, muda, bahkan anak balita terlihat duduk di tepi pembatas rumput dengan jalan setapak yang telah disediakan.Mereka duduk berdekatan. Ada juga yang mencari posisi di bawah pohon untuk berteduh dari teriknya matahari. Namun, sebagian kecil membiarkan kulitnya terbakar mentari pagi. Setelah itu, semua mengeluarkan kitab kecil dari saku atau tas.
Suasana yang semula diam membisu dan sunyi pecah dengan lantunan Surat Yasin yang dilafalkan semua yang hadir. Suara bacaan Surat Yasin pun menggema di lahan yang lumayan luas tersebut.Itulah suasana lokasi kuburan masal korban tsunami Aceh, 26 Desember 2004, di Desa Siron, Lambaro, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar. Mereka mengadakan doa bersama memperingati tujuh tahun tragedi mahadahsyat tersebut.Di tengah lantunan Surat Yasin, isak tangis keluarga korban tsunami yang datang ke kuburan masal itu mulai pecah. Mereka mendoakan sanak famili dan keluarga dekat yang menjadi korban gempa dan tsunami.
Di tengah lantunan bacaan Surat Yasin, zikir, dan doa, seorang bocah 4 tahun menghampiri gundukan tanah kuburan. Dengan suara keras dan cadel, bocah bernama Cut Zalwa itu mengatakan, ’’Nek, Icut datang. Kami mau lihat nenek dan kirim doa. Nih, Icut bawa bunga sikit tuk nenek.’’ Mendengar ucapan putrinya, sang ibu yang menggendong anak kedua yang berusia lima bulan tak kuasa membendung air mata. Dengan isak kecil, dia tersedu di tepi rerumputan pembatas kuburan masal tersebut. Sang ibu itu menyatakan, ibu dan adik bungsunya menjadi korban dan dikubur di antara 46.718 jenazah lainnya.
Dirinya dan ayahnya selamat waktu itu, meski sempat digulung gelombang besar tsunami. Setiap berziarah, ibu muda tersebut menyempatkan datang ke kuburan masal di Desa Siron itu. Dia juga mengaku pernah berziarah ke kuburan masal lain di Ulee Lheue. ’’Tapi, di sana kami tidak merasakan apa-apa. Tidak demikian saat berziarah ke Siron ini, rasanya ibu dan adik saya menyambut,’’ ungkapnya. Ditempat terpisah, Tarmiyus dan Yusnidar seperti mendapat anugerah atas kembalinya putri mereka, Meri Yulanda, yang hilang dalam tsunami tujuh tahun lalu. Namun, sejatinya mereka berdua masih kepikiran. Sebab, kakak Yulanda juga hilang dalam tsunami. Sampai sekarang, putri pertama mereka bernama Yulisah itu tak juga kembali.
"Saya sudah tidak berharap lagi. Meri sudah kembali saja saya sudah bahagia," kata Tarmiyus saat ditemui di studio Metro TV kemarin (26/12). Lelaki 43 tahun itu datang ke Jakarta sejak Minggu (25/12) lalu bersama Meri Yulanda dan Ibrahim Noor, bapak Tarmiyus sekaligus kakek Meri. Yusnidar, ibu Yulanda, tidak diajak serta. Tarmiyus menuturkan, sejatinya tsunami yang menghempas tanah kelahirannya pada 26 Desember 2004 silam membuat dia kehilangan dua anggota keluarga sekaligus. Yakni, Yulanda dan Yulisah, anak pertama dan kedua pasangan suami istri asal Meulaboh itu. Lelaki yang bekerja sebagai buruh lepas itu menuturkan, saat air bah menghempas tempat tinggalnya, Tarmiyus mengamankan Yulisah di loteng lantai dua rumah tetangganya. Sedangkan Yulanda, dia titipkan ke sebuah perahu yang lewat. Tapi, air laut yang menyerbu lebih tinggi hingga melewati loteng dan menyeret Yulisah.
Sejak saat itu, Yulisah dan Yulanda hilang. Tujuh tahun kemudian, tepatnya pada Rabu (21/12) lalu, Yulanda secara ajaib tiba-tiba kembali ke Meulaboh. Rupanya dia selama ini selamat dan sempat dipaksa mengemis oleh "orang tua asuhnya". Tapi, Yulisah masih raib. "Kalau dia sekarang masih hidup, mungkin dia sudah kuliah. Anak-anak teman dia main sudah pada kuliah," kata sang kakek, Ibrahim Noor, mengenang cucunya. Tarmiyus sudah tak lagi berharap menemukan Yulisah. Sebab, dia melihat sendiri bagaimana ombak besar menyerbu loteng tempat Yulisah berada. "Saat ada kapal lewat yang terseret ombak, saya menyelam ke dalam air buat menghindar. Setelah itu, saya lihat ada ombak besar lewat di loteng. Yuli hilang," kata Tarmiyus pelan.
Pasangan Tarmiyus dan Yusnidar dikaruniai empat anak. Urutannya, Yulisah, Yulanda, Ari Yulanda, dan Rahmat Harfiah. Rahmat Harfiah lahir setelah tsunami. Dia kini berusia 1,5 tahun. "Masih baru bisa jalan di rumah," timpal Ibrahim. Selama diwawancarai Jawa Pos kemarin, Yulanda terlihat sangat diam. Dia seperti susah diajak bicara. Tarmiyus mengatakan, anak keduanya itu seperti masih trauma akibat perlakuan kasar pengasuhnya. "Biar dia sembuh dulu. Mungkin mau main-main. Kalau soal muslimnya, mungkin ngaji dulu. Baru kalau dia mau sekolah, ya disekolahkan," kata Tarmiyus. (jpnn/c5/nw/aga)
Sumber : Pontianak Post
Tidak ada komentar:
Posting Komentar